Keunikan Menara Masjid Agung Kesultanan Banten





Perjalanan dengan rombongan dari Infofotrafi kali ini menuju Banten Lama. Dengan waktu yang singkat, kita targetkan untuk mengunjungi tiga lokasi, yaitu:
  1. Masjid Agung Kesultanan Banten
  2. Vihara Avalokitesvara
  3. Situs Istana Keraton Kaibon
Dipandu oleh Teguh Sudarisman untuk belajar pembuatan Foto Story dan  Hendro ‘Momi’ Poernomo untuk belajar tehnik foto B&W.

Berangkat pagi hari dengan tujuan pertama Majid Agung Kesultanan Banten, merupakan pilihan yang tepat. Disamping udara masih segar, disini juga belum ramai, sehingga dengan mudah kita bisa mengambil gambar Masjid secara utuh atau tidak bocor. Dengan lensa lebar plus pagi hari, akan tampak kesan dramatis dari obyek nya.

Setelah melihat keindahan Masjid dari pintu depan, disarankan untuk berkeliling sambil menikmati indahnya Masjid dari depan samping kanan belakang dan samping kiri. Pintu utama bukan dari depan, tapi dari sisi sebelah kanan.

Dari sisi sebelah kanan, sebelum masuk ke Masjid, akan terlihat pintu utama dari Menara Masjid yang menghadap ke utara. Banyak celah yang bisa kita jadikan frame dari menara tersebut. Silahkan dipilih sesuai dengan selera dan kemampuan lensa. Jangan berlama-lama untuk berkeliling Masjid, cukup sekali saja. Akan lebih baik waktu yang masih pagi dipakai untuk naik ke menara, mumpung pengunjung belum ramai. Pada saat pengambilan gambar dari arah depan, saya sangat tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai Menara Masjid.

Pintu masuk menara  selalu terbuka bagi wisatawan. Disana ada petugas yang  memandu naik dan turun menara. Informasi yang dapat dari petugas setempat, Masjid dibangun sekitar tahun 1552 - 1570M. Perancang menara berbeda dengan perancangan Masjid. Perancang Masjid oleh Raden Sepat, sedangkan perancang menara oleh Hendrik Lucaz Cardeel dari Belanda, tahun 1620M. Karena jasanya beliau memperoleh gelar Pangeran Wiraguna. Menara dengan ketinggian 24 meter, menandakan waktu 24jam dan dengan jumlah anak tangga 83, sepertinya tidak terlalu berat untuk naik ke atas menara. Silahkan dicoba….

Jangan kaget ya, kalau ternyata anak tangganya sangat sempit, cukup untuk satu orang. Bahkan kalau badannya agak kemuk agak susah untuk bisa naik. Tapi tidak ada salahnya kalau pelan-pelan dicoba naik ke atas menara.

Tantangan selanjutnya, celah udara yang jumlahnya sedikit dan sempit. Menjadi salah satu penghalang untuk kebebasan bernafas. Terjawab sudah, kalau dibawah petugas sangat memperhatikan wisatawan yang akan naik. Kalau terlalu banyak yang naik, takutnya akan pingsan karena berebut udara. Sampai di atas, kita akan menikmati pemandangan yang luar biasa. Banguna utama Masjid terlihat sempurna, dengan atap 5 susun nya, yang melambangkan Rukun Islam ada 5.




Dari sisi yang berbeda, lihat ke bawah akan tampak kegiatan masyarakat, pedagang dan pengunjung di pagi hari. Seperti persiapan membuka lapak atau masuk ke masjid. Terlihat pintu utama bagian depan Masjid selalu tertutup. Untuk mempermudah pengawasan dan ketertiban, pintu dibuka di sisi sebelah kanan dan kiri masjid.

Menara Masjid terdiri dari dua lantai. Lantai paling atas dipakai untuk membersihkan puncak menara. terlihat ada tangga yang sangat sederhana untuk menaikinya. Puncak menara dari bawah dan dari atas sangat berbeda. Dari atas terlihat sangat bulat, menurut saya seperti kue bakpao yang ditumpuk, mulus dan rata, ditunjang dengan warnanya yang putih. Sedangkan kalau dari bawah, ujung menara tampak seperti labu botol.

Jangan berlama-lama disini, masih banyak obyek yang bisa dilihat. Juga supaya kita bisa bergantian dengan pengunjung lain. Disamping itu, masih banyak obyek yang bisa kita nikmati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "How to be a Taipan"

Discover Roemah Kopi DeKaranganjar Blitar