MIsteri Dibalik Keelokan Batu Sindu Tanjung Senubing di Pulau Natuna

Berawal dari tugas kuliah, akhirnya saya bisa menapakkan kaki di Pulau Natuna, salah satu dari gugusan pulau di Propinsi Kepulauan Riau. Dari sekian banyak obyek wisata yang bisa dikunjungi di Pulau Bunguran Besar (Natuna), Tanjung Senubing, merupakan obyek yang paling menarik, disamping panoramanya yang indah, angin sepoi-sepoi mengiringi setiap langkah, sewaktu naik bukit kecil menuju titik pemandangan terindah.



Tanjung Senubing adalah perbukitan di pantai yang berbentuk teluk, mengitari ratusan batu granit raksasa. Salah satu batu raksasa disebut masyarakat setempat Batu Sindu, yang letaknya persis di ujung teluk. Batu kokoh tersebut tertutupi oleh tumbuhan rambat, ada satu atau dua pohon besar yang tumbuh subur diatasnya dengan julur-julur panjang sampai ke tanah.

Belum ada yang bisa menjelaskan secara pasti, asal dari batu granit muncul. Di Natuna, batu-batu ini tidak hanya muncul di satu tempat, melainkan muncul di sepanjang pesisir pantai. Bentuk batu yang besar berwarna hitam dengan ketinggian dan diameter mencapai puluhan meter ini membuat kita makin terkesima. Tidak bisa dihitung dengan jari jumlah batuannya, tidak hanya ratusan bahkan ribuan. Menuju ke panorama Tanjung Senubing, lokasinya persis di radar 212 TNI AU. Dimanfaatkan sebagai lokasi penerbangan. Di puncak dapat disaksikan beberapa tower radar.

Tanjung Senubing menghadap langsung ke laut cina selatan, sehingga arus nya cukup deras, disertai dengan ombak. Dilihat sepintas, perairan teluk ini cukup dalam, sehingga berbahaya untuk berenang/snorkling, bahkan untuk menyelam. Saat ini saya dan teman-teman menggunakan pompong yang cukup besar, sehingga kapal kami bisa sedikit merapat ke teluk Senubing.

Ternyata di balik keunikan tersebut, yang disebut dengan batu granit, memiliki kualitas sangat bagus. Bahkan bisa disebut kualitas eksport. Hal ini terlihat dari kandungan batu granit, yakni Plagioklas, Alkali fedsfar dan Kuarsa. Dengan kandungan seperti ini, batu granit lebih keras dengan corak warna hitam kehijauan. Kandungan dalam bongkahan batu granit sangat berkualitas super dan sangat disayangkan pemerintah daerah kurang mengerti dan tanggap serta sosialisasi ke warga setempat tentang kualitas batu granit ini. Seharusnya batu granit ini menjadi komoditi eksport. Kualitas batu granit sangat baik dimanfaatkan untuk ornamen marmer.


Berhadapan langsung dengan Tanjung Senubing adalah Pulau Senoa. Merupakan pulau yang indah dengan hamparan pasirnya yang putih. Tidak ada penduduk yang tinggal disana. Pulau Senoa merupakan salah satu pulau yang direncanakan oleh pemerintah daerah sebagai daerah tujuan wisata. Sarana dan prasaran telah disiapkan, seperti kamar mandi umum, penerangan dengan Technology Solar system dan tersedia tempat untuk istirahat. Sayangnya, tempat ini juga tidak dipelihara, sehingga sarana umum ini rusak dan kotor. Waktu saya kesana, tidak ada satu pun petugas atau penjaga pulau.

Menuju Pulau Senoa dibutuhkan waktu 30 menit dari selat lampa. Meskipun ombaknya cukup besar, namun semuanya akan terbayar, disaat pompong merapat ke pulau. Pantainya yang bersih dengan pasir putih, menghilangkan semua kepenatan perjalanan menuju pulau. Saat pompong merapat, di sebelah kiri terlihat hamparan pasir putih dan sebelah kanan akan terlihat bangunan diatas bukit beserta mercusuar yang sepertinya sudah tidak terpakai. Dibawahnya, ombak yang cukup besar yang dapat memecah kekuatan batu tersebut. Kata Senoa dalam bahasa setempat berarti satu tubuh berbadan dua. Menurut cerita, pulau yang terkenal sebagai sarang burung layang-layang putih ni merupakan penjelmaan dari seorang perempuan yang sedang berbadan dua (hamil).

Dibalik misteri legenda tersebut, melihat pemandangan indah seperti ini, timbul rasa malas dan enggan untuk kembali ke Jakarta, namum tugas lain telah menanti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku "How to be a Taipan"

Discover Roemah Kopi DeKaranganjar Blitar